Just a Thought..

•July 8, 2008 • 4 Comments

Not a day has passed without connecting to internet, nevertheless, not even an hour I spent to visit my blog. These few months has passed with a thought of my goal. For some reasons, I’m not going to apply for a job. I’ve decided to be an entrepreneur, one way or another.

When I decided to be an entrepreneur, It was frustrating not to know what you’re going to do. Some people suggested that I just sell something and call it a day. Well, that’s not going to work for me. I could hardly finish my campus assignments well, I need to do something I really like about.

I like the way people treat their businesses as their babies. You need to be in love with your baby, a baby baby. You do everything needed to make sure you can born a healthy baby safely. Giving birth is painful, yes, it’s a struggle to launch your business. And when he was born, you say, “Welcome to the world, sweety!”

Soon you realize your baby consumes too much of your time. He cries, yells, urinates, and poops. You can barely sleep. Yet you’re not giving up, you give him the most love you have. Just when you’re about to lose your mind, you realise you’re very much in love with him. He walks his first step towards you with a big smile and whispers,”daddy!” – Your business has surely makes the first profit. Then the time comes when he is a grown up and starts a family. You say to yourself, “let’s have another baby..” – Haha!

Budaya Punya Siapa..?

•February 4, 2008 • 3 Comments


Seorang gadis masuk ke dapur dan duduk di sisi meja yang lain sambil mengawasiku. Aku letakkan cangkir kopi yang baru saja kuminum. Diangkatnya cangkir itu, masih ada sisa kopi di dalam sana. Didekatkannya cangkir itu ke hidungnya, dihirupnya aroma yang tersisa.

Dengan muka jijik, dia bertanya, “ Apa ini?”

“Itu kopi,” jawabku.

“Kopi?”

Aku pun menjelaskan padanya bahwa kopi itu sebuah minuman yang lebih kuat daripada teh.

“Kopi itu makanan asing?” Diletakannya cangkir itu dengan bunyi keletak.

“Bisa dibilang begitu.” Aku pun meraih seiris roti bakar dan mulai mengoles mentega.

Dia memandang ke kemasan mentega dan mengangkat setoples selai dengan label dalam bahasa Inggris. Berikutnya, dia memajukan badannya dan menatapku dengan sorot matanya yang hitam. “Kenapa Anda meminum minuman asing? Makan makanan asing? Kenapa Anda memiliki begitu banyak buku-buku asing? Kenapa Anda menjadi begitu asing? Dalam setiap rumah di rumah ini ada barang impor, tapi tak satu pun foto Pemimping Agung kita. Kami sudah datang ke berbagai rumah kelas kapitalis. Rumahmu yang paling buruk, paling pembangkang. Memangnya kamu orang asing?”

Dikutip dari buku Life and Death in Shanghai karya Nien Cheng

 

 

Menjelang tahun baru Imlek, kue keranjang hadir di mana-mana. Dalam bahasa Mandarin, kue ini disebut nian gao (nian = tahun, gao = kue). Kata gao juga terdengar seperti kata gao lain yang berarti tinggi. Sebab itu, kue keranjang disusun bertingkat dengan harapan meningkatnya rezeki yang diterima. Dalam dialek Hokkian, kue keranjang disebut ti kwee yang berarti kue yang manis, melambangkan kehidupan yang manis. Kata Imlek sendiri berasal dari dialek Amoi, bahasa Hokkian Selatan yang berarti “penanggalan bulan” atau yinli dalam bahasa Mandarin. Di China, hari besar ini dikenal dengan chun jie (festival penyambutan musim semi). Nah, ini budaya siapa?

Sebelumnya, banyak orang mengutuk sebuah negara tetangga karena mematenkan lagu dan tarian daerah kita. Saya pun tidak ketinggalan memeriahkan suasana, ikut mengutuk, dikompori pula dengan iklan jamu yang hanya diminum orang pintar. Apa terjemahan yang tepat untuk budaya Indonesia dalam bahasa Inggris? The Culture of Indonesia atau Indonesian Culture? Kalau terjemahan pertama yang disepakati, Indonesia akan segera kehabisan budaya disebabkan praktek paten-mematen. Dengan definisi pertama, lagu rasa sayange jelas benar-benar sayang tidak termasuk budaya Indonesia. Kalau terjemahan kedua yang dipakai, batasannya apa?

Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Jika pengertian dari budaya Indonesia adalah budaya khas Indonesia, apakah kebudayaan Jepang di UKJ dan Genshiken termasuk budaya Indonesia? Beberapa orang langsung berkata, “Ya nggak lah.” Orang-orang yang membudayakan budaya tersebut masih sedikit. Bagaimana dengan korupsi? Demokrasi? Lantas, apakah budaya suatu bangsa ditentukan oleh banyaknya orang yang terkait dengan budaya itu?

Kita sering berwacana tentang menghargai budaya kita sendiri. Apa sebenarnya budaya kita sendiri? Jika sebuah budaya tidak jelas termasuk dalam “budaya Indonesia”, apakah lantas tidak diprioritaskan untuk dihargai? Bisa-bisa warga Sumedang protes karena tidak disarankan untuk mengonsumsi tahu karena disinyalir bukan budaya Indonesia. Apakah tahu sumedang bisa dikategorikan ke dalam kelompok budaya Indonesia? Bagaimana dengan batagor? Jelas-jelas brownies kukus Amanda adalah oleh-oleh khas Bandung. Bagaimana menurut Anda?

Dia memandang ke kemasan mentega dan mengangkat setoples selai dengan label dalam bahasa Inggris. Berikutnya, dia memajukan badannya dan menatapku dengan sorot matanya yang hitam. “Kenapa Anda meminum minuman asing? Makan makanan asing? Kenapa Anda memiliki begitu banyak buku-buku asing? Kenapa Anda menjadi begitu asing? Dalam setiap rumah di rumah ini ada barang impor, tapi tak satu pun foto Pemimping Agung kita. Kami sudah datang ke berbagai rumah kelas kapitalis. Rumahmu yang paling buruk, paling pembangkang. Memangnya kamu orang asing?”

“Anda makan tomat?” tanyaku.

“Tentu saja!” jawabnya.

“Tomat itu makanan asing. Diperkenalkan ke negara kita oleh orang asing. Begitu juga dengan semangka, dibawa dari Persia melalui jalan sutera. Begitu pula dengan buku-buku asing, Karl Marx adalah orang Jerman. Jika kita tidak mebaca buku-buku asing, tidak akan ada gerakan komunis internasional seperti ini. Tidak mungkin menjaga ide atau apa pun itu di dalam batas negara mana pun, bahkan di masa lampau ketika komunikasi masih sulit. Sekarang, tambah tidak mungkin. Saya cukup yakin bahwa masyarakat di seluruh dunia sudah mendengar kabar tentang gerakan kalian.”

Dikutip dari buku Life and Death in Shanghai karya Nien Cheng

mengubah Indonesia?

•December 14, 2007 • 4 Comments

Jam baru menunjukkan pukul 4 pagi. Sayup-sayup terdengar adzan subuh berkumandang. Laporan perancangan tata letak pabrik, tugas mingguanku, setebal 70 halaman, baru selesai diprint, tiga jam sebelum pengumpulan. Tidur bukanlah pilihan, fatal jika laporan telat dikumpul karena kesiangan.

Pagi ini, aku teringat akan sebuah film yg baru kutonton dua hari lalu. Sebuah film yang sangat menginspirasi berjudul Pay It Forward. Cerita dimulai dengan tantangan dari seorang guru, diperankan oleh Kevin Spacey, kepada murid-muridnya.

Think of an idea to change our world – and put it into action.

(Cari cara untuk mengubah dunia dan lakukanlah)

Kata-kata itu seperti sebuah tamparan telak. Bukan hanya tujuan hidup saja yang belum aku miliki, topik tugas akhir juga belum kutemukan. Mirip sekali dengan Alice yang ber-wonder ria di Wonderland, tidak memiliki tujuan hidup. Hatiku pun sedikit memberontak.

“It’s so weird”

“Crazy”

“Hard..”

“Bummer”

Tapi sang guru menepis dengan bertanya, “How about possible? It’s possible.. The realm of possibilities exists where in each of you? Here.. (pointing to his head). So you can do it. You can surprise us. It’s up to you.

“Wah, ngomong toh gampang, Mas Eugene. Jangankan mengubah dunia, naikin IPK saja setengah mati. Bangun pagi juga tak becus, anjingku saja bangun jauh lebih pagi dariku. Kayak gini mau mengubah dunia, apa jadinya dunia?” pikirku dalam hati.

Namun, angka berbicara lain. Berdasarkan Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index) tahun 2006, Indonesia berada pada urutan ke-108 dari 177 negara. Harapan hidup rata-rata manusia Indonesia adalah 69 tahun, terendah di ASEAN. Tingkat melek huruf manusa Indonesia berusia 15 tahun ke atas adalah 90,4%. Sepuluh persen kekurangannya sama saja dengan berjuta-juta penduduk Indonesia. Selain itu, Combined primary, secondary and tertiary gross enrolment ratio, atau partisipasi penduduk usia sekolah yang terdaftar adalah 68,4%. Taraf hidup masyarakat Indonesia juga jauh dari memuaskan. Meniru Om Nagabonar, apa kata dunia?

Suka tidak suka, siap tidak siap, sudah saatnya bergerak. Mungkin benar kata Eugene Simonet, kita dapat mengubah dunia. Kita dapat memperbaiki negara kita, Indonesia. Asalkan semua orang memiliki tujuan dan berjuang ke sana, dengan nilai dasar yang sama, apa pun tujuannya, Indonesia seharusnya dapat membaik dengan sendirinya.

Bayangkan, jika semua orang, dengan keinginannya untuk membangun Indonesia, bergerak sesuai potensi yang dimiliki. Apa yang akan terjadi dengan Indonesia?

Seperti kata Trevor, pemeran utama dalam film tadi, banyak orang terlalu takut untuk berpikir bahwa dunia ini bisa berubah. Mungkin sulit untuk sebagian orang yang sudah terbiasa dengan diri mereka, seburuk apa pun itu, untuk berubah. Mereka seperti menyerah, dan ketika mereka menyerah, semua kalah.

Bagaimana menurut Anda? Ikut mengubah Indonesia?

 

THe Calling..?

•November 18, 2007 • 4 Comments

Just a few days ago, a sentence in a website struck my mind.. Standard Chartered is looking for recent and upcoming graduates to fill in some positions. I’m a graduate by July next year. That’s quite a piece of news.. Being unable to stand the imagination of having a making-people-jealous salary as well as international experiences, I walked in the presentation room, just to find hundreds of people feeling the same way.

As I was walking in the room, hundreds of eyes, some belongs to my seniors, caught me in. A look definitely speaks a thousand words. those eyes might say,”What are you doing here? You don’t belong here, o undergraduate!”

Well, Since I believe StanChart is also looking for upcoming graduates, those looks don’t really matter to me.

The Chief Information Officer, whatever his name, didn’t present his powerpoint slides well.. He has.., uh, a unique accent of English.., not to mention his country. Nevertheless, I could hear him answering my friend’s question, “We are looking for any fresh graduates or those who will be graduated by January,” he said.

Umm.. No one will be graduated in January in this University, Mr CIO..

Hundreds of eyes caught us again, “Respect your jobless seniors..” might be those eyes’ words..

Feeling unsatisfied, my friend asked again,”Are we supposed to take the test then?”

A man of my age, just a few yards away from us, can’t help himself saying, “NO!”. A phrase of “Could u just shut up” will not be too impolite for him..

Right after the presentation, feeling uneasy, I walked out the door.. I didn’t find myself passionate about the job. Do I really want to work for anyone?