Seorang gadis masuk ke dapur dan duduk di sisi meja yang lain sambil mengawasiku. Aku letakkan cangkir kopi yang baru saja kuminum. Diangkatnya cangkir itu, masih ada sisa kopi di dalam sana. Didekatkannya cangkir itu ke hidungnya, dihirupnya aroma yang tersisa.
Dengan muka jijik, dia bertanya, “ Apa ini?”
“Itu kopi,” jawabku.
“Kopi?”
Aku pun menjelaskan padanya bahwa kopi itu sebuah minuman yang lebih kuat daripada teh.
“Kopi itu makanan asing?” Diletakannya cangkir itu dengan bunyi keletak.
“Bisa dibilang begitu.” Aku pun meraih seiris roti bakar dan mulai mengoles mentega.
Dia memandang ke kemasan mentega dan mengangkat setoples selai dengan label dalam bahasa Inggris. Berikutnya, dia memajukan badannya dan menatapku dengan sorot matanya yang hitam. “Kenapa Anda meminum minuman asing? Makan makanan asing? Kenapa Anda memiliki begitu banyak buku-buku asing? Kenapa Anda menjadi begitu asing? Dalam setiap rumah di rumah ini ada barang impor, tapi tak satu pun foto Pemimping Agung kita. Kami sudah datang ke berbagai rumah kelas kapitalis. Rumahmu yang paling buruk, paling pembangkang. Memangnya kamu orang asing?”
Dikutip dari buku Life and Death in Shanghai karya Nien Cheng
Menjelang tahun baru Imlek, kue keranjang hadir di mana-mana. Dalam bahasa Mandarin, kue ini disebut nian gao (nian = tahun, gao = kue). Kata gao juga terdengar seperti kata gao lain yang berarti tinggi. Sebab itu, kue keranjang disusun bertingkat dengan harapan meningkatnya rezeki yang diterima. Dalam dialek Hokkian, kue keranjang disebut ti kwee yang berarti kue yang manis, melambangkan kehidupan yang manis. Kata Imlek sendiri berasal dari dialek Amoi, bahasa Hokkian Selatan yang berarti “penanggalan bulan” atau yinli dalam bahasa Mandarin. Di China, hari besar ini dikenal dengan chun jie (festival penyambutan musim semi). Nah, ini budaya siapa?
Sebelumnya, banyak orang mengutuk sebuah negara tetangga karena mematenkan lagu dan tarian daerah kita. Saya pun tidak ketinggalan memeriahkan suasana, ikut mengutuk, dikompori pula dengan iklan jamu yang hanya diminum orang pintar. Apa terjemahan yang tepat untuk budaya Indonesia dalam bahasa Inggris? The Culture of Indonesia atau Indonesian Culture? Kalau terjemahan pertama yang disepakati, Indonesia akan segera kehabisan budaya disebabkan praktek paten-mematen. Dengan definisi pertama, lagu rasa sayange jelas benar-benar sayang tidak termasuk budaya Indonesia. Kalau terjemahan kedua yang dipakai, batasannya apa?
Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Jika pengertian dari budaya Indonesia adalah budaya khas Indonesia, apakah kebudayaan Jepang di UKJ dan Genshiken termasuk budaya Indonesia? Beberapa orang langsung berkata, “Ya nggak lah.” Orang-orang yang membudayakan budaya tersebut masih sedikit. Bagaimana dengan korupsi? Demokrasi? Lantas, apakah budaya suatu bangsa ditentukan oleh banyaknya orang yang terkait dengan budaya itu?
Kita sering berwacana tentang menghargai budaya kita sendiri. Apa sebenarnya budaya kita sendiri? Jika sebuah budaya tidak jelas termasuk dalam “budaya Indonesia”, apakah lantas tidak diprioritaskan untuk dihargai? Bisa-bisa warga Sumedang protes karena tidak disarankan untuk mengonsumsi tahu karena disinyalir bukan budaya Indonesia. Apakah tahu sumedang bisa dikategorikan ke dalam kelompok budaya Indonesia? Bagaimana dengan batagor? Jelas-jelas brownies kukus Amanda adalah oleh-oleh khas Bandung. Bagaimana menurut Anda?
Dia memandang ke kemasan mentega dan mengangkat setoples selai dengan label dalam bahasa Inggris. Berikutnya, dia memajukan badannya dan menatapku dengan sorot matanya yang hitam. “Kenapa Anda meminum minuman asing? Makan makanan asing? Kenapa Anda memiliki begitu banyak buku-buku asing? Kenapa Anda menjadi begitu asing? Dalam setiap rumah di rumah ini ada barang impor, tapi tak satu pun foto Pemimping Agung kita. Kami sudah datang ke berbagai rumah kelas kapitalis. Rumahmu yang paling buruk, paling pembangkang. Memangnya kamu orang asing?”
“Anda makan tomat?” tanyaku.
“Tentu saja!” jawabnya.
“Tomat itu makanan asing. Diperkenalkan ke negara kita oleh orang asing. Begitu juga dengan semangka, dibawa dari Persia melalui jalan sutera. Begitu pula dengan buku-buku asing, Karl Marx adalah orang Jerman. Jika kita tidak mebaca buku-buku asing, tidak akan ada gerakan komunis internasional seperti ini. Tidak mungkin menjaga ide atau apa pun itu di dalam batas negara mana pun, bahkan di masa lampau ketika komunikasi masih sulit. Sekarang, tambah tidak mungkin. Saya cukup yakin bahwa masyarakat di seluruh dunia sudah mendengar kabar tentang gerakan kalian.”
Dikutip dari buku Life and Death in Shanghai karya Nien Cheng